Sabtu, 21 Mei 2011

tidak ada yang bisa menebakisi hati orang lain, bahkan peramal sekalipun, mau mengira - ira sampai pusing juga kita tdk akan tahu, memang sulit hidup ditengah banyak orang dengan banyak sifat dan karakter, mencari titik yang nyaman itu ternyata tidak mudah, kadang apa yang kita sampaikan belum tentu benar dimata orang lain....dan yang orang lain sampaikan belum tentu benar menurut kita. setiap orang punya persepsi masing2 tentang seseorang entah itu baik atau buruk, tapi biarlah orang berkata apa...toh yang tahu tentang diri kita adalah kita sendiri.
Begitu juga saat kita berpandangan atau berfikir tentang seseorang pastinya bukan hanya hal2 positif saja yang selalu dipikirkan kadang pula rasa Shuudzon atau prasangka yang tidak baik bisa saja bahkan sering muncul...tapi semua itu adalah persepsi...
Paling mudah memang mempersepsikan tentang orang lain, tapi apakah kita pernah berfikir untuk menggambarkan seperti apa diri kita sendiri...Jadi sebelum menggambarkan dan terus berpersepsi tentang orang lain ada baiknya kita bercermin untuk diri kita sendiri introspeksi diri mungkin itu istilahnya...gak usah deh terus menerus berpersepsi dan membicarakan jeleknya orang lain buruknya orang lain toh setiap manusia itu tidak ada yang sempurna....Kesempurnaan itu hanya milik Allah (Kata Bunda Dorce).
Marilah kita memperbaiki diri melihat cermin tentang diri kita...seperti apa...dan memperbaiki diri...urusan orang biar saja jadi urusan mereka sendiri toh kalaupun ada atau terjadi apa2 bukan kita yang akan kena imbasnya. 

Kamis, 24 Maret 2011

DENGKI PENGHANCUR KEBAIKAN


Rasulullah saw. bersabda, “Hindarilah dengki karena dengki itu memakan (menghancurkan) kebaikan sebagaimana api memakan (menghancurkan) kayu bakar.” (Abu Daud).

Dengki (hasad), kata Imam Al-Ghazali, adalah membenci kenikmatan yang diberikan Allah kepada orang lain dan ingin agar orang tersebut kehilangan kenikmatan itu. Dengki dapat merayapi hati orang yang merasa kalah wibawa, kalah popularitas, kalah pengaruh, atau kalah pengikut. Yang didengki tentulah pihak yang dianggapnya lebih dalam hal wibawa, polularitas, pengaruh, dan jumlah pengikut. Tidak mungkin seseorang merasa iri kepada orang yang dianggapnya lebih “kecil” atau lebih lemah. Sebuah pepatah Arab mengatakan, “Kullu dzi ni’matin mahsuudun.” (Setiap yang mendapat kenikmatan pasti didengki).

Hadits itu menegaskan kepada kita bahwa dengki itu merugikan. Yang dirugikan bukanlah orang yang didengki, melainkan si pendengki itu sendiri. Di antara makna memakan kebaikan, seperti yang disebutkan dalam hadits di atas, dijelaskan dalam kitab ‘Aunul Ma’bud, “Memusnahkan dan menghilangkan (nilai) ketaatan pendengki sebagaimana api membakar kayu bakar. Sebab kedengkian akan mengantarkan pengidapnya menggunjing orang yang didengki dan perbuatan buruk lainnya. Maka berpindahlah kebaikan si pendengki itu pada kehormatan orang yang didengki. Maka bertambahlah pada orang yang didengki kenikmatan demi kenikmatan sedangkan si pendengki bertambah kerugian demi kerugian. Sebagaimana yang Allah firmankan, “Ia merugi dunia dan akhirat.” (‘Aunul Ma’bud juz 13:168)

Hilangnya pahala itu hanyalah salah satu bentuk kerugian pendengki. Masih banyak kebaikan-kebaikan atau peluang-peluang kebaikan yang akan hilang dari pendengki, antara lain:

Pertama, mengalami kekalahan dalam perjuangan. Orang yang dengki perilakunya sering tidak terkendali. Dia bisa terjebak dalam tindakan merusak nama baik, mendiskreditkan, dan menghinakan orang yang didengkinya. Dengan cara itu ia membayangkan akan merusak citra, kredibilitas, dan daya tarik orang yang didengkinya. Dan sebaliknya, mengangkat citra, nama baik dan kredibilitas pihaknya. Namun kehendak Allah tidaklah demikian. Rasulullah saw. bersabda:

Dari Jabir dan Abu Ayyub Al-Anshari, mereka mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada seorang pun yang menghinakan seorang muslim di satu tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan menghinakan orang (yang menghina) itu di tempat yang ia inginkan pertolongan-Nya. Dan tidak seorang pun yang membela seorang muslim di tempat yang padanya ia dinodai harga dirinya dan dirusak kehormatannya melainkan Allah akan membela orang (yang membela) itu di tempat yang ia menginginkan pembelaan-Nya.” (Ahmad, Abu Dawud, Ath-Thabrani)

Kedua, meruntuhkan kredibilitas. Ketika seseorang melampiaskan kebencian dan kedengkian dengan melakukan propaganda busuk, hasutan, dan demarketing kepada pihak lain, jangan berangan bahwa semua orang akan terpengaruh olehnya. Yang terpengaruh hanyalah orang-orang yang tidak membuka mata terhadap realitas, tidak dapat berpikir objektif, atau memang sudah “satu frekuensi” dengan si pendengki. Akan tetapi banyak pula yang mencoba melakukan tabayyun, cari informasi pembanding, dan berusaha berpikir objektif. Nah, semakin hebat gempuran kedengkian dan kebencian itu, bagi orang yang berpikir objektif justru akan semakin tahu kebusukan hati si pendengki. Orang yang memiliki hati nurani ternyata tidak senang dengan fitnah, isu murahan, atau intrik-intrik pecundang. Di mata mereka orang-orang yang bermental kerdil itu tidaklah simpatik dan tidak mengundang keberpihakan.

Orang yang banyak melakukan provokasi dan hanya bisa menjelek-jelekkan pihak lain juga akan terlihat di mata orang banyak sebagai orang yang tidak punya program dalam hidupnya. Dia tampil sebagai orang yang tidak dapat menampilkan sesuatu yang positif untuk “dijual”. Maka jalan pintasnya adalah mengorek-ngorek apa yang ia anggap sebagai kesalahan. Bahkan sesuatu yang baik di mata pendengki bisa disulap menjadi keburukan. Nah, mana ada orang yang sehat akalnya suka cara-cara seperti itu?

Ketiga, mencukur gundul agama. Rasulullah saw. bersabda, “Menjalar kepada kalian penyakit umat-umat (terdahulu): kedengkian dan kebencian. Itulah penyakit yang akan mencukur gundul. Aku tidak mengatakan bahwa penyakit itu mencukur rambut, melainkan mencukur agama.” (At-Tirmidzi)

Islam adalah rahmat bagi sekalian alam. Akan tetapi Islam yang dibawa oleh orang yang di dadanya memendam kedengkian tidak akan dapat dirasakan rahmatnya oleh orang lain. Bahkan pendengki itu tidak mampu untuk sekadar menyungging senyum, mengucapkan kata ‘selamat’, atau melambaikan tangan bagi saudaranya yang mendapat sukses, baik dalam urusan dunia maupun terkait dengan sukses dalam perjuangan. Apatah lagi untuk membantu dan mendukung saudaranya yang mendapat sukses itu. Dengan demikian Islam yang dibawanya tidak produktif dengan kebaikan alias gundul.

Keempat, menyerupai orang munafik. Perilaku dan sikap pendengki mirip perilaku orang-orang munafik. Di antara perilaku orang munafik adalah selalu mencerca dan mencaci apa yang dilakukan oran lain terutama yang didengkinya. Jangankan yang tampak buruk, yang nyata-nyata baik pun akan dikecam dan dianggap buruk. Allah swt. menggambarkan perilaku itu sebagai perilaku orang munafik. Abi Mas’ud Al-Anshari –semoga Allah meridhainya– mengatakan, saat turun ayat tentang infaq para sahabat mulai memberikan infaq. Ketika ada orang muslim yang memberi infaq dalam jumlah besar, orang-orang munafik mengatakan bahwa dia riya. Dan ketika ada orang muslim yang berinfak dalam jumlah kecil, mereka mengatakan bahwa Allah tidak butuh dengan infak yang kecil itu. Maka turunlah ayat 79 At-Taubah. (Bukhari dan Muslim)

Benarlah ungkapan seorang ulama salaf: “Al-hasuudu laa yasuud (pendengki tidak akan pernah sukses).” (Kasyful-Khafa 1:430).

Kelima, tidak mampu memperbaiki diri sendiri. Orang yang dengki, manakala mengalami kekalahan dan kegagalan dalam perjuangan cenderung mencari-cari kambing hitam. Ia menuduh pihak luar sebagai biang kegagalan dan bukannya melakukan muhasabah (introspeksi). Semakin larut dalam mencari-cari kesalahan pihak lain akan semakin habis waktunya dan semakin terkuras potensinya hingga tak mampu memperbaiki diri. Dan tentu saja sikap ini hanya akan menambah keterpurukan dan sama sekali tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun untuk mewujudkan kemenangan yang didambakannya.

Keenam, membuat gelap mata dan tidak dapat melihat kebenaran. Dengki membuat pengidapnya tidak dapat melihat kelemahan dan kekurangan diri sendiri; dan tidak dapat melihat kelebihan pada pihak lain. Akibatnya, jalan kebenaran yang terang benderang menjadi kelam tertutup mega kedengkian. Apa pun yang dikatakan, apa pun yang dilakukan, dan apa pun yang datang dari orang yang dibenci dan didengkinya adalah salah dan tidak baik. Akhirnya, dia tidak dapat melaksanakan perintah Allah swt. sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang- orang yang mempunyai akal.” (Az-Zumar:18)

Ketujuh, membebani diri sendiri. Orang yang membiarkan dirinya dikuasai oleh iri dengki hidupnya menanggung beban berat yang tidak seharusnya ada. Bayangkan, setiap melihat orang lain yang didengkinya dengan segala kesuksesannya, mukanya akan menjadi tertekuk, lidahnya mengeluarkan sumpah serapah, bibirnya berat untuk tersenyum, dan yang lebih bahaya hatinya semakin penuh dengan dengki, marah, benci, curiga, kesal, kecewa, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Enakkah kehidupan yang penuh dengan perasaan itu? Tentu saja menyesakkan. Dalam bahasa Al-Qur’an, bumi yang luas ini dirasakan sumpek. Seperti layaknya penyakit, ketika dipelihara akan mendatangkan penyakit lainnya. Demikian pula penyakit hati yang bernama iri dengki. Bila dia tidak dihilangkan akan mengundang penyakit-penyakit lainnya. Maha Benar Allah yang telah berfirman, “Di dalam hati mereka ada penyakit maka Allah tambahkan kepada mereka penyakit (lainnya).” (Al-Baqarah: 10)

Betapa sulitnya kita menghimpun kebaikan dan meraih kemenangan. Maka janganlah diperparah dan dipersulit dengan membiarkan dengki menguasai hati kita. Mari berlomba dalam kebaikan. Allahu a’lam.
(Kutipan www.dakwatuna.com)

Selasa, 01 Februari 2011

SPECIAL MOMENT

beginilah kehidupan baik buruk senang susah semua harus dilewati. Perjalanan sebuah konsekuensi yang telah dipilih, kadang terasa teramat berat namun janji suci itu tak mungkin untuk diingkari, dan jangan pernah berfikir untuk mengingkari. Belum banyak yang bisa aku perbuat masih butuh proses lama untuk menuju pendewasaan dan kedewasaan, sebisa mungkin untuk belajar dan terus belajar. Hingga saat ini telah memasuki tahun keempat aku bersamanya. Suamiku yang sangat aku hargai, meski belum bisa kumengenalmu sepenuhnya, tapi aku berusaha untuk bisa memahamimu, memahami jalan hidupmu, melewati semuanya bersamamu. Maaf jika aku belum bisa sepenuhnya menjadi seperti yang kamu inginkan. Namun yakinlah komitmenku kuat untuk menjalani ini selamanya bersamamu. Semoga Allah selalu meridhoi jalan kita. Amin....

Jumat, 28 Januari 2011

What is ACCOUNTING?
Definisi akuntansi dapat dilihat dari 2 (dua) sudut pandang yaitu:
1. Fungsi dan Kegunaan
 Akuntansi merupakan aktivitas jasa yang berfungsi memberikan informasi kuantitatif mengenai kesatuan-kesatuan ekonomi terutama yang bersifat keuangan yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan. 
2. Proses Kegiatan 
Akuntansi adalah seni mencatat, mengklasifikasi dan mengikhtisarkan transaksi-transaksi kejadian yang sekurang-kurangnya atau sebagaian bersifat keuangan dengan cara menginterpretasikan hasil-hasilnya. 

Department of Accounting
Terdapat 3 (tiga) cabang akuntansi yaitu: 
1. Akuntansi keuangan Adalah cabang akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan bagi pihak ekstern seperti investor, kreditor, dan Bapepam. 
2. Akuntansi manajemen  Adalah cabang akuntansi yang menghasilkan laporan keuangan bagi pihak intern organisasi atau manajemen. 
3. Akuntansi Pemerintah  Adalah cabang akuntansi yang memproses transaksi-transaksi keuangan pemerintah yang menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban pelaksanaan APBN/APBD kepada rakyat melalui lembaga legislatif serta untuk kepentingan pihak-pihak yang terkait.

                                                                                              
Berdasar gambar di atas dapat kita uraikan bahwa siklus akuntansi adalah sebagai berikut: 
a.Pencatatan Data ke dalam dokumen sumber/bukti transaksi. 
b.Penjurnalan, yaitu menganalisis dan mencatat transaksi dalam jurnal (buku harian)  
c.Melakukan posting ke Buku Besar yaitu memindahkan debet dan kredit dari jurnal ke akun Buku Besar. 
d. Penyusunan Neraca Saldo yaitu menyiapkan Neraca Saldo unttuk mengecek keseimbangan Buku Besar.
e.Membuat ayat jurnal penyesuaian dan memasukkan jumlahya pada Neraca Saldo. 
f.Membuat ayat-ayat penutup yaitu menjurnal dan memindahbukukan ayat-ayat penutup. 
g.Penyusunan Laporan Keuangan yaitu Laporan Rugi Laba, Laporaan Perubahan Modal dan Neraca.

Basis Equality of Accounting   Aktiva = Hutang + Modal
Aktiva   = harta yang dimiliki perusahaan yang merupakan sumber ekonomi. 
Contoh: kas, piutang, gedung dsb. 
Utang    = kewajiban yang menjadi beban perusahaan                            
Contoh: utang pembelian kredit
Modal   = hak atau klaim pemilik atas aktiva perusahaan    
Contoh: Setoran modal oleh pemilik 


Kamis, 27 Januari 2011

NONSENSE

SAAT NEGARA INI HANCUR BARU TAHU RASA SEMUA PENGUASA KITA, TAPI TETAP RAKYAT YANG AKAN MENDERITA. BETAPA MIRISNYA TERJADI OMONG KOSONG DISEKITAR KITA TAPI KITA TAK DAPAT BERBUAT APA2, MARAHNYA ......
AKU INI HANYA ORAG BIASA YANG DI BODOHI OLEH WAKTU DAN KEKUASAAN TERLIHAAAAT SEPERTI ORANG PLIN PLAN, TAHU TAPI TAK BISA MENGUNGKAPKAN MUNGKIN ITULAH CERMIN ORANG YANG TIDAK PUNYA KUASA, SEMUA KORUPTOR ITU BANGSAT!!!!!
MEMAKAN HAK YANG BUKAN HAK MEREKA, MAU JADI APA NEGARA INI, INI NEGARA BANGSAT NEGARA TERSANGKA. BUKAN TIDAK CINTA PADA NEGARA INI, JUSTRU KUSANGAT MENCINTAI NEGARA INI, KLO NEGAARA INI DI BELI OLEH AMERIKA, GAK AKAN SUDI AKU KELUAR DARI RUMAH KARENA YANG AKU LIHAT NANTI HANYA ORANG BERBIKINI.....

TIPS MENJADI WIRASWASTAWAN

Buat anda yang udah pada bosen jadi karyawan dan ingin punya usaha sendiri, tepat banget karena anda udah nemuin situs ini. disini saya akan menjelaskan langkah-langkah dan tips untuk menjadi seorang wiraswasta.
Nah, kalau anda sudah memutuskan untuk ingin menjadi seorang wiraswastawan sebaiknya memperhatikan langkah-langkah berikut :
1. Buat daftar (melalui brainstorming) seratus jenis usaha yang menurut anda layak ditekuni karena ada potensi pasar dan peluang bisnisnya.
2. Dari seratus jenis usaha tersebut, pilih yang paling anda sukai karena akan terasa menyenangkan jika ditekuni sehari-hari.
3. Dari sisa daftar yang ada, pilihlah jenis usaha yang paling anda kuasai untuk dilaksanakan. Karena anda memiliki pengetahuan, sumber daya, jaringan, dan mitra kerja.
Jenis usaha yang masih tersisa merupakan peluang usaha yang tepat bagi anda. Meski kiat diatas sepintas nampak sederhana, namun pada prakteknya bisa tepat. Fakta menyatakan, tingkat keberhasilan seorang wiraswasta cenderung lebih tinggi apabila ia memilih jenis usaha yang disukai dan dikuasai.
Jika sudah menemukan jenis usaha nya, anda kemudian harus berkomitmen untuk selalu persistance dan fokus. Persistence adalah daya tahan untuk terus berjuang keras membangun bisnis tersebut dalam suka maupun duka secara konsisten dan terus menerus.
Sementara fokus berarti anda mesti rela menggunakan seluruh waktu, perhatian, dan sumberdaya yang dimiliki untuk menekuninya. Setelah berkomitmen, maka lanjutkan dengan langkah-langkah berikut ini!!!
1. Pelajari pasar/market yang ingin dipenetrasi
2. Definisikan produk/jasa yang ingin dibuat dan dipasarkan.
3. Tentukan sumber daya yang dibutuhkan untuk minimal dapat berwiraswasta jangka pendek (1-3 tahun)
4. Buat arus kas bisnis
5. Kembangkan rencana dan model bisnis yang sesuai dengan target dan karakteristik
6. Sediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk memulai usaha
7. Jalankan bisnis berdasarkan rencana dan model yang telah didefinisikan sebelumnya.
8. Lakukan evaluasi dan pembelajaran secara kontinyu dari hari ke hari untuk segera melakukan perbaikan dalam berbagai hal.
Segitu aja tips dari aku. Semoga bermanfaat dan good luck!